10 Film Indonesia terbaik 2011
Sepanjang 2011 lebih dari 80 judul film Indonesia yang tayang di bioskop. Pada tahun ini film film indonesia masih didominasi film horor-komedi dengan judul yang absurd, walaupun ada juga film dengan tema lain menarik dari segi cerita, misalnya Film Sang penari karya sutradara Ifa Isfansyah ini menggambarkan kondisi sosial-politik Indonesia di era 1965, maupun film Arisan 2 karya Sutradara Nia DiNata bercerita tentang kehidupan kota metropolitan dengan kalangan sosialita, persahabatan, dan kisah cinta sejenis.
10 Film Indonesia Terbaik 2011
1.Sang Penari (Sutr. Ifa Isfansyah)
Dengan Sang Penari, Ifa Isfansyah naik kelas. Hanya dengan 2 film (satu lagi debutnya, Garuda di Dadaku) Ifa layak disejajarkan sebagai sutradara kelas wahid yang baru. Ia berhasil menerjemahkan novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dengan baik. Ifa berpihak pada masyarakat biasa yang menjadi korban kemelut politik tahun 1965. Selama ini, tragedi 1965 nyaris tak pernah di angkat ke layar lebar dengan perspektif korban. Orde Baru memilih pendekatan propaganda, sedang Gie (2005, Riri Riza) masih berjarak dengan korban. Ifa mewakili pandangan generasi 1998 yang ingin membongkar segala teks yang pernah mengisi relung batin dan pikiran soal peristiwa G30S versi Orde Baru. Saat ia berhasil, kita ikut bersorak sebab akhirnya kita punya film yang bicara lebih jujur soal tragedi kemanusiaan itu
2. The Perfect House (Sutr. Affandi Abdul Rahman)
Film yang mampu menghadirkan ketegangan tak melulu harus menampilkan sosok hantu berupa pocong atau kuntilanak. ‘The Perfect House’ garapan sutradara Affandi Abdul Rahman akan membuat degup jantung Anda berdetak lebih cepat lewat cerita dan karakter-karakter yang misterius.
3. ? (Tanda Tanya) (Sutr. Hanung Bramantyo)
Secara singkat, film “?” mengisahkan orang-orang berbeda etnis dan agama. Mereka hidup berdampingan dalam lingkungan yang dikelilingi mesjid, gereja, dan klenteng. Film ini seolah jadi mikrokosmos bagi sebuah Indonesia hari ini. Kita hidup di negeri yang diisi penganut beragam agama dan etnis. Dalam situasi keberagaman itu kerap terjadi konflik. Judulnya berangkat dari kebingunan sineasnya memberi nama situasi Indonesia kontemporer. Apa yang terjadi pada keragaman kita? Mengapa kini tumbuh subur konflik antar pemeluk agama dan etnis? Mengapa sebagian kita tak lagi toleran pada sesama? Dengan berani, film ini mengangkat tema sensitif itu. Untuk itu, film ini layak dihargai.
4. Tendangan dari Langit (Sutr. Hanung Bramantyo)
Film ini memajang nama besar Irfan Bachdim di posternya. Filmnya memang memanfaatkan Irfan Bachdim sebagai role model, tokoh panutan. Tapi, justru bukan Bachdim yang membuat filmnya menarik (akting Bachdim kaku, cenderung mengganggu), melainkan kisah perjuangan bocah desa jago bola yang ingin bercita-cita sebagai pesepakbola profesional. Kisah from zero to hero ini selalu menarik. Walau cerita macam ini terasa makin familiar sejak sukses Laskar Pelangi, dengan penggarapan yang baik film macam ini masih asyik disaksikan.
5.Arisan! 2 (Sutr. Nia DiNata)
Haruskah film bagus dibuatkan sekuelnya? Membandingkan film pertama (rilis 2003) dengan sekuelnya ini pastilah akan langsung menyebut film pertama lebih baik. Saya pun begitu. Tapi, tontonlah film ini lebih lepas maka Anda akan tetap mendapat tontonan yang baik. Delapan tahun berselang, karakter-karakter yang kita cintai (Meimei, Andien, Sakti, Nino, Lita) sudah menapaki usia jelang atau mulai 40-an. Cara pandang atas hidup pun berubah. Konfliknya memang kurang greget, tapi Nia berhasil menyuguhkan tontonan extravaganza (tengok polah dan gaya sosialita Jakarta versinya). Dan, ah, Rio Dewanto dan Adinia Wirasti justru paling bersinar serta mencuri perhatian kita di sini.
6. Lima Elang (Sutr. Rudy Soedjarwo)
Di zaman serba digital saat anak-anak lebih sering main Blackberry atau PSP, masihkah Pramuka mengasyikkan? Film ini hendak mengatakan kalau ekskul Pramuka lebih asyik dari semua gadget itu. Bagi penonton anak-anak, film ini menuyuguhkan kisah petualangan yang mengasyikkan, sedang bagi penonton dewasa, film ini seperti nostalgia ke masa kecil saat masih aktif ikut Pramuka. Duet Rudi yang berpengalaman membuat film baik plus skenario Salman Aristo menghasilkan tontonan yang disuka seluruh anggota keluarga, baik anak-anak maupun orang dewasa.
7. The Mirror Never Lies (Sutr. Kamila Andini)
Buah jatuh tak jauuh dari pohonnya. Peribahasa itu pas menggambarkan sosok Kamila Andini. Seperti ayahnya, Garin Nugroho, Kamila bermain-main dengan tema tak biasa dengan setting eksotis. Kamila memilih kisah hubungan ibu dan anak perempuannya dengan latar kehidupan nelayan suku Bajo di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, kawasan yang merupakan bagian dari Segitiga Terumbu Karang. Seperti Garin, Kamila memiliki bakat menampilkan gambar-gambar indah. Ia berhasil memperlihatkan ratusan spesies makhluk bawah laut yang luar biasa itu, termasuk puluhan dolfin yang cantik, menyatu dengan cerita.
8. Catatan Harian Si Boy (Sutr. Putratama Tuta)
Si Boy telah jadi ikon 1980-an yang dipuja bak setengah dewa. Banyak yang tahu sosok Boy tapi samar-samar mengingatnya. Apalagi bagi generasi 2000-an yang menganggapnya Boy sebagai tokoh cult. Maka, dengan jenial, film ini, Catatan Harian Si Boy, bertolak bukan sebagai sekuel maupun buat ulang. Film ini lebih seperti tribute. Meminjam sosok Boy dari kisah terdahulu untuk mengisahkan cerita yang sama sekali lain. Inilah Boy bagi generasi kini yang pasti bakaljadi cult generasi mendatang.
9.Garuda di Dadaku 2 (Sutr. Rudi Soedjarwo)
Cerita tentang perjuangan seorang anak yang ingin menjadi pemain sepakbola profesional memang cukup diminati penikmat film Indonesia. Emir Mahira yang berhasil meraih Piala Citra sebagai Aktor Terbaik FFI 2011, kembali memerankan karakter Bayu.
Namun kini Bayu sudah beranjak remaja. Selain sudah mulai menyukai lawan jenis, penampilan Bayu juga tampak trendy seperti ABG pada umumnya. Dan satu lagi, ia juga memakai behel (kawat gigi).
10.Serdadu Kumbang
Produksi Alenia Pictures selalu menawarkan dunia yang berbeda. Setelah ‘Denias’ dan ‘King’ inilah persembahan pasangan produser Nia Zurkarnaen-Ari Sihasale. Mengolah latar Desa Mantar, Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat yang miskin, film ini mengikuti kehidupan Amek, bocah yang menderita bibir sumbing, yang tinggal bersama ibu dan kakak perempuannya, menunggu kedatangan ayahnya yang merantau ke Malaysia.
Post on December 30th, 2011 Kategori News Dibaca : 3,326 Kali
Tags: 10 Film Indonesia terbaik 2011, film indonesia, Film Indonesia terbaik 2011, film terbaik indonesia, film terbaru indonesia
Duniaboxoffice.com tidak lagi meyediakan link Download Film Gratis, duniaboxoffice hanya akan mensharekan info info film box office terbaru, Review, synopsi dan trailer serta berita berita seputar film terkini.









